Terbang selama 20 menit tanpa safety belt, konsumen gugat Lion Air.

Jemmy A. Turangan merasa tak nyaman duduk dikursinya. Ia gelisah lantaran tidak ada sabuk pengaman (safety belt) yang menyertai penerbangannya dari Makassar menuju Denpasar. Tanpa sabuk pengaman, Jemmy membayangkan jika terjadi pendaratan darurat atau pesawat gagal lepas landas (take off), apa jadinya nasibnya.

Kala itu, Juni 2005, ia mengudara bersama Lion Air untuk menemui rekan bisnisnya. Sebelum pintu pesawat ditutup, Jemmy langsung melaporkan masalah itu ke salah satu pramugari bernama Pritzi. Si pramugrari lalu melaporkan pada kru teknik (technical crew) pesawat. Namun tidak ada tanggapan dari para awak kabin hingga menjelang take off. Beberapa pramugari malah asik mendemonstrasikan penggunaan sabuk pengaman dan standar keselamatan di pesawat.

Lantaran dihinggapi rasa waswas, Jemmy kembali menanyakan masalah yang sama ke pramugari. Si pramugari lantas menjanjikan mencari kursi pengganti. Tidak lama, pesawat yang ditumpanginya malah bersiap-siap untuk take off. Para pramugari langsung menempati kursinya masing-masing. Sementara Jemmy gigit jari. Ia terbang minus prangkat sabuk pengaman yang merupakan standar keselamatan penerbangan di dunia.

Setibanya di Denpasar, Jemmy mengadukan ketidaknyamanannya ke kantor cabang Lion Air Denpasar. Ia bahkan sengaja membatalkan urusan bisnisnya untuk memberikan laporan itu. Atas laporannya, Jemmy malah disuruh membuat laporan tertulis ke kantor pusat Lion Air di Jakarta.

Merasa tidak kondusif untuk meneruskan bisnis, Jemmy pun memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Ia lalu membuat laporan pengaduan itu ke kantor pusat Lion Air. Direktur Lion Air Captain David Lumbuun kemudian menghubungi Jemmy. David memberitahukan bahwa Pritzi telah dipecat.

Tidak hanya itu, Humas Lion Air Hasyim Arsal Alhabsy menemui Jemmy di loby cafe gedung Plaza Bumi Daya. Dalam pertemuan itu, Hasyim mengatakan Lion Air meminta maaf atas kelalaian awak pesawat. Hasyim juga menawarkan kompensasi berupa cinderamata dan tiket gratis satu kali jalan. Jemmy menolak tawaran itu. Ia meminta agar Lion Air menyatakan permintaan maaf secara resmi dan tertulis.

Jemmy memilih mengajukan gugatan ke pengadilan. Melalui kuasa hukumnya dari Rampen Law Office ia mendaftarkan gugatan pada Juni 2008. Pasalnya, Lion Air bergeming atas somasi yang diajukan Jemmy dan kuasa hukumnya. Bahkan ia sudah mengadukan persoalan itu ke DPR dan Departemen Perhubungan. Namun Lion Air tetap tidak bersedia meminta maaf secara resmi.

Dalam gugatannya, Jemmy mengklaim telah mengalami kerugian materiil sebesar Rp549 ribu sesuai harga tiket pesawat yang dibelinya. Sebab meski sudah membayar tiket, namun Jemmy terpaksa mengalami 20 menit penerbangan dengan tidak nyaman dan aman. Kerugian immateriil diperhitungkan sebesar Rp5 miliar karena Jemmy kehilangan potensi keuntungan bisnis yang ia batalkan lantaran mengurus laporan ke Lion Air.

Hingga berita ini diturunkan, hukumonline belum mendapat konfirmasi dari Lion Air. Saat dihubungi, kuasa hukum Lion Air, tidak menjawab teleponnya.

Persidangan perkara ini sudah memasuki tahap pembuktian. Kuasa hukum penggugat William R.R. Rawung menyatakan akan mengajukan saksi ahli dari Ditjen Perhubungan Udara pada persidangan lanjutan pekan depan.
(hukum online)