F-16 Flying Falcon
Pesatnya perkembangan industri dirgantara telah mengubah doktrin hankam konvensional di banyak negara. Bagi penganut dokrin pertahanan defensif, peran pesawat intai dan pesawat penyadap pun dikedepankan. Ironisnya, Indonesia menjadi sasaran penyusup –penyusup ini.

Indonesia telah menjadi salah satu negara yang sering kecolongan. Markas Komando Pertahanan Udara Nasional (KOHANUDNAS) mengakuinya. Papua adalah contoh wilayah yang sering kali disusupi penerbangan yang kerap disebut Black Flight ini. Sehingga TNI -AU sebagai pembina mengganggap penting menempatkan empat dari lima radarnya disini.

Meski tidak bisa digunakan sebagai “pengusir”, peralatan ini minimal bisa dimanfaatkan sebagai mata dan pemberi peringatan dini.

Selain Papua wilayah yang tak kalah rawannya adalah disekitar perbatasan Timor Leste, Selat Sunda dan Aceh. Pesawat tempur maupun radar TNI -AU kerap kali memergoki pesawat asing melintasi wilayah ini yang mencoba melakukan spionase. Kadang di antaranya ingin mencoba kepekaan radar yang dimiliki Indonesia.

Para penyusup itu pun teryata tak main -main beberapa bulan lalu TNI-AU memergoki sebuah helikopter CH-47 Chinook US. NAVY tengah berkeliaran diatas wilayah udara Aceh dan di lain waktu sebuah pesawat intai elektonik P-3 Orion US. NAVY sedang menyusur Selat Sunda. Keduanya masuk tanpa izin. Lain cerita ketika Timor- Timur baru saja lepas dari pangkuan Indonesia, F/A-18 Hornet Australian Royal Air Force (AU Australia) kerap terbang diatas wilayah ini hingga menerobos jauh ke wilayah Indonesia.yang mengesalkan, pesawat- pesawat ini tak gentar setelah dikejar F-5E TigerII dan Hawk 109/209 Indonesia. Sepertinya memang ada unsur kesengajaan
ketimbang kebablasan, tatkala TNI- AU sedang melakukan pengamanan penempatan pasukan Penjaga Perdamaian PBB di Timor Leste, waktu itu.

Kisah menarik saat dua jet tempur TNI-AU Hawk 209 siap tempur saat melakukan patroli disekitar wilayah perbatasan Timor Leste beberapa waktu lalu. Kapten (pnb) Azhar sebagai tactical lead pada posisi ketinggian 30,000 kaki menjelang flight information religion (FIR) Darwin. Pada saat itu lah Kapt. Azhar melihat dua titik hitam terbang vertikal dengan kecepatan 675 knot. Bersiap Kapt Azhar (Hawk-209/TT-1207) dan Mayor Henry (Hawk 109/TL-0501) mengambil formasi serang. Ketegangang meliputi kedua kokpit jet tempur Indonesia. Operator radar tiba- tiba memecah keheningan “Target berbalik menuju Hawk 40,000 kaki!” dalam posisi nose up. Sesaat lagi keempat pesawat berpapasan. Disinilah Kapt. Azhar melihat pesawat berekor ganda pada jarak 5 mil menyambar dari arah berlawanan “F-18!”, serunya.

Kedua hawk saat itu sengaja ditempatkan di Kupang menyusul ketegangan yang terjadi di Timor- Leste beberapa waktu lalu. Sempat mereka mengunci target F-18 itu, tentu tak bisa seenaknya melepaskan rudal perlu perintah dari Jakarta. Setelah insiden itu radar Kupang banyak menangkap pergerakan pesawat disekitar FIR Darwin. Lebih hebat lagi malamnya terjadi peristiwa mengagetkan. Delapan F/A-18 Hornet AU Australia melintas diatas Lanud El Tari Kupang.

Ujian terberat terjadi diatas peairan Kep. Bawean Jawa Timur lima F/A-18 Hornet US. NAVY (AL Amerika) di cegat dua F-16B Fighting Falcon TNI- AU skadron udara 3 Madiun saat asik “latihan” di peairan Kep. Bawean.

Insiden yang menurut keempat penerbang F-16B sangat menegangkan itu hanya terjadi dalam hitungan menit. Padahal dari titik kejadian hanya butuh 10 menit penerbangan ke Surabaya, 20 menit ke Madiun atau 50 menit ke Jakarta bagi burung besi sekelas F/A-18 atau F-16.

Awalnya kelima F/A-18 dari skadron VFA-22 yang bermarkas pada kapal induk USS. Carl Vinson “hanya” bermaksud melakukan patroli ritual combat air patrol (CAP). Dalam misi CAP, jet tempur Amerika sanggup melakukan misi pengeboman atau pengintaian taktis jika diperlukan.

Dari pelelusuran yang diketahui VFA-22 berinduk pada wing udara kapal induk (CVW) 11 Armada Pasifik dengan kekuatan 10 Skadron. VFA-22 dijluki Fighting Redcocks yang mengoprasikan F/A-18C type Night Attack Hornet. Selain pada kapal induk satuan ini juga berpangkalan di Lemoore, California atau di Atsugi, Jepang[1]

kembali ke Bawean, manuver CAP inilah yang siang itu (11.38 wib) tertangkap radar MCC (militari-civil coodination centre) Bandara Ngurah Rai, Bali. Di sebelah barat Bawean. Sejumlah F/A-18 berada pada ketinggian 15,000-35,000 kaki dengan kecepatan 450 knot. Padahal pada jalur itu adalah “kedaulatannya” airline sipil. Karena itu akhirnya manuver ini dilaporkan oleh B737-200 Bouraq yang terganggu ketika melintas pada jalur yang sama.

Jika terhitung dari saat terdeteksi (11.38 wib) hingga lepas ladasnya F-16 pertama pada pukul 17,02 wib, bearti ada rentang waktu sekitar lima setengah jam. Dalam pandangan pertahanan udara kondisi ini sangat riskan. Masih syukur kalau baru diluar batas missile release line, ini bisa- bisa sudah sampai di atas Monas hal ini disebabkan perlunya identifikiasi sebelum bertindak.

Begitu juga ketika ketujuh pesawat terlibat manuver rapat (dog fight). F-16B TS-1602 Falcon 2 yang diterbangkan Kapt.pnb. Sartriyo Utomo dan Kapt.pnb. Tonny Haryono memutuskan menggoyangkan sayap pesawat (rocking the wing). Dalam dunia penerbangan bearti sikap bersahabat.

Namun dimata pemerhati dan pakar hukum internasional mengkritisi sikap ini, bahwa tidak sepantasnya “F-16 mengalah.” Indonesia dalam hal ini harus tegas menunjukan sikap atas kedaulatannya.

Insiden Bawean menyisakan segudang catatan. Di mata Prof. DR. H. Priyatna Abdurrasid P.hd, posisi Indonesia tidak akan menguntungkan bila masalah ini diangkat ke forum internasional. “Amerika itu unggul dalam segala hal mulai dari militer, ilmu pengetahuan dan ekonomi,”[2]jelasnya.

Apalagi Amerika dengan sikap arogan tidak meratifikasi Konvensi Hukum Laut 1982 (UNCLOS 1982) yang membuatnya innocent ketika insiden ini terjadi. “we are in international water, please stay away from our ship,”

kata penerbang F/A-18 melalui radio kepada penerbang F-16.

Eko Budi Prianto

international specialy program eco_usmc@plasa.com

[1] usn.com [2] Angkasa Agustus tahun XIII